Rabu, Juli 23, 2014

Selamat Hari Anak 2014


Anak bagaikan pohon rambat. Jika pohon rambat dibiarkan tumbuh sekehendak hatinya, maka akan tumbuhlah ke segala arah, tanpa tujuan, tak sedap dipandang dan akan mengganggu manusia di sekitarnya. Tapi jika diarahkan bahkan dibentuk, maka akan tumbuhlah sesuai dengan apa yang kita arahkan, maka keindahan yang terpancar dari tanaman itu akan berguna dan memukau orang disekitarnya. Maka rangkailah anak kita dengan jiwa seni, kasih sayang dan kelembutan, maka tanaman rambat itu akan menjadi bukan sekedar tanaman rambat.


Anak Bangsa :Menatap Mentari Di Kaki Ufuk Dengan Penuh Asa..........
read more...

Selasa, Juli 22, 2014

Aneh............... Tender DKP Langkat masih Berproses di LPSE, Bak Sampah Besi Telah Ada

Foto kiri : bak sampah besi di tempat parkir belakang kantor DKP Langkat yg masih tertulis DKP TA 2014 difoto tgl 21/7.
Foto kanan : bak sampah besi di tempat parkir belakang kantor DKP Langkat yg tulisan DKP TA 2014 telah dihapus/dihilangkan foto diambil 22/7

Langkat-Reza Lubis
Proyek Pengadaan kontainer DHI TPS container tertutup dan bak sampah besi di Dinas Kebersiahan dan Pertamanan (DKP) Kabupaten Langka  ini menarik untuk di cermati,hal ini disebabkan tender pengadaan di LPSE Langkat (http://lpse.langkatkab.go.id) sementara masih berproses tetapi 5 bak sampah terlihat ada di areal parkir belakang dan perbengkelan DKP Langkat dan salah satu bak sampah besi tersebut tertera tulisan DKP TA (Tahun Anggaran=Red) 2014.
Hal ini mengundang pertanyaan dari berbagai kalangan masyarakat Langkat dan dugaan adanya ssuatu yang tidak beres dalam pengerjaan proyek pengadaan bak sampah besi yang merupakan salah satu item Pengadaan Kontainer DHI TPS Container Tertutup, TPS Container dan Bak Sampah Besi yg di tenderkan di lpse Langkat dengan pagu paket sebesar Rp.304.175.000 dengan Nilai HPS Paket Rp 304.175.000,00. di lingkungan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kab.Langkat yang selama ini dinakhodain oleh H.Syahmadi,S.Sos, MSP selaku Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kab.Langkat.
Pengadaan Kontainer DHI TPS Container Tertutup, TPS Container dan Bak Sampah Besi merupakan bagian dari penyediaan prasarana dan sarana penggelolaan persampahan  dengan nilai Rp 1.195.208.880,- yang tertuang dalam lampiran Perda No.6 Tahun 2014 Tentang APBD Tahun Anggaran 2014 dengan nomor rekening 1.08.108.03.15.02.
Adalah hal yang aneh jika proses tender masih berjalan di LPSE dan belum didapatkan perusahaan pemenang tender,tertapi bak sampah besi yg merupakan salah satu item yg ditenderkan telah ada dan terparkir di halaman belakang kantor tersebut. 
Berdasarkan penelusuran dan informasi yang di dapat pengadaan bak sampah tersebut berjumlah 5 unit dengan anggaran pengadaan perunitnya sebesar Rp. 16.245.000,- dan proses lelangnya terdata di website LPSE Langkat dengan kode lelang 438304 dengan nama lelang Belanja Modal Pengadaan Kontainer DHI TPS Container Tertutup, TPS Container dan Bak Sampah Besi dengan nilai pagu paket sebesar Rp. 304.725.000,00 dengan Nilai HPS Paket Rp 304.175.000,00.

Jika benar dugaan proses tender masih berlangsung, bak sampah besi telah siap di kerjakan merupakan suatu tindakan melawan hukum karena  proses lelang pengadaan barang /Jasa Pemerintah melalui LPSE harus berdasarkan Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah,Perpres No 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah dan peraturan turunan lainnya.dan hal ini sangat di sayangkan..........
Sementarsa itu Tasyrif,SE selaku Kepala Bidang Pengangkutan dan Peraslatan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kab. Langkat  ketika di konfirmasi (21/7) melalui  selulernya di no 0822766***** berkaitan dengan bak sampah yang tertera tulisan DAK TA 2014 pada salah satu sisinya menyatakan  "pengadaan yang lalul lalu itu bang,bisa jadi tahun 2012,cuma itukan sudah rusak bocor bocor kami perbaiki,kan ada perawatan lanjut Tasyrif, kami setiap tahun kan ada penggelolaan jadi kalau misalnya apanya dibuatlah itu perbaikan 2013,2014"
Saat ditanya tentang tulisan TA 2014 yang tertera di bak sampah tersebut Tasyrif,SE berkilah "2014 itu tahun perbaikannya bukan masuk lpse pengadaan bak sampah,ala....kalau soal tulisan itu besok saya hapus bang,ketus Tasyrif. Udalah itu kesalahan anggota bang,tukas Tasyrif, diakhir percakapannya. 

Saat  kembali mengunjungi kantor DKP Kab Langkat (22/7) untuk penelusuran dan mencari info terkait persoalan tersebut, dan di temukan bak sampah besi yang tertera tulisan DKP TA 2014 yg telah diketahui banyak pihak, ternyata tulisan tersebut telah hilang  dicat kuning,dan saat di tanya kepada salah satu pegawai yg kebetulan ada mengapa dihapus tulisan DAK TA 2014 nya, "ya udah dihapus  bang perintah bos jawabnya pegawai tersebut dengan nada lirih #.

Anak Bangsa :Menatap Mentari Di Kaki Ufuk Dengan Penuh Asa..........
read more...

Selasa, Juli 15, 2014

Anak 3,5 Tahun Tewas,diduga Korban Penganiayaan Ayah Tiri

Kondisi tubuh Dimas Ardiansyah sebelum dikebumikan


Sebulan tinggal bersama ayah tiri, Dimas Ardiansyah (3,5) mendadak tewas mengenaskan.Di tubuhnya ditemukan luka bekas setrika dan tapak sepatu. Kematian bocah periang itu dicurigai akibat disiksa ayah tirinya berinisial Dik. Kini jasad Dimas telah disemayamkan di kampung kelahirannya, Gang Nangka Desa Tanjungputus, Kec. Padangtualang.

Saat ditemui, ibu kandung korban, Agustiati Manda Sari (25) di rumah orang tuanya Kecamatan Padang Tualang mengisahkan awal kejadian dan kepindahan mereka ke Jl. Karya Baru, Sinembah Satu, Kel. Helvetia Timur Medan.


Diceritakan Sari, sejak cerai dengan ayah Dimas, ia bekerja sebagai pembantu di Medan. Sampai akhirnya ia kenalan dengan Dik, security di Komplek Guru Sinembah.,selama tinggal di Medan bersama suami keduanya, Dimas juga dibawa serta. Dan sejak saat itu, hari-hari Dimas lebih banyak dihabiskan bersama Dik.”Tiap hari Dimas itu sama ayah tirinya, mulai dari makan, sampai mengganti pakaiannya. Pokoknya yang mengurusnya bapak tirinya tadi. Memang sering saya dengar dia menangis kalau lagi dimandikan misalnya. Tiap saya tanya, dia mengatakan kalau Dimas menangis karena matanya perih kena sabun. Ya saya kira betul jugalah,” ketus Sari.

Sari juga kerap melihat Dik membawa Dimas pergi menjauh dari rumah tiap kali menangis. “Karena saya baru bersalin, perhatian saya untuk mengurus Dimas memang tidak ada sama sekali,“ ujarnya seraya mengaku tiap harinya Dik pulang ke rumah untuk makan siang.”Memang ada saya kurang enak hati saat itu, saya melihat suami kedua saya memegang kayu. Saya kira kayu itu dibawanya untuk jaga-jaga di pos security,” lirihnya.

Sari juga mengakui kalau saban malam, Dimas selalu dapat perlakuan tak wajar. “Setiap malam mau tidur, kedua kaki Dimas diikat pakai sarung. Begitu juga dengan dadanya, diikat kain dan badannya dipakaikan jaket,” jelas Sari.Meski meronta kepanasan karena dipakaikan jaket dan diikat kakinya, tapi Dik tak mau melepaskan pakaian yang dikenakan korban. Dik beralasan kalau di rumahnya banyak nyamuk. Sedangkan kaki korban yang diikat katanya biar korban tidak lasak bila tidur malam.

Meski rada aneh melihat kelakuan suaminya tersebut, tapi Sari tak bisa berbuat banyak. Sampai akhirnya, Rabu (9/7) sekitar pukul 14.15 WIB, Dimas tiba-tiba mengigil kepanasan lalu kejang-kejang dan mengeluarkan buih dari mulutnya. Selanjutnya korban dilarikan ke RS Sufina Aziz. Tak berapa lama ditangani dokter, korbanpun menghembuskan nafas terakhirnya.“Dibilang dokter, korban ada masalah dengan paru-paru dan jantungnya,” ujar Sari yang ditemui di rumah orangtuanya, Selasa (15/7).

Begitu mengetahui Dimas sudah tak bernyawa lagi, Dik buru-buru mengurus jenazahnya. Oleh Sari kematian putranya tadi langsung diberitahukan kepada keluarganya di kampung. Tak berapa lama kemudian, beberapa kerabat dekat Sari datang ke Medan hendak mengambil jenazah Dimas untuk dimakamkan di Padang Tualang.

Meski sempat terjadi perdebatan antara keluarga Sari dengan Dik yang melarang jenazah Dimas dibawa pulang. Bahkan, Dik sempat mengatakan kalau jenazah sudah disempurnakan dan jangan dibuka-buka lagi kain kafanya, dan keluarga diminta langsung saja mengebumikannya.

Setiba di Padang Tualang, keluarga yang merasa ada kejanggalan, kembali membuka kain kafan pembalut tubuh Dimas untuk kembali dimandikan. Saat itulah keluarga dan pelayat melihat beberapa tanda aneh di tubuh Dimas seperti bekas memar dan lembam.

Agustiati Manda Sari(25) Ibunda Dimas
Bahkan yang mencurigakan, ada bekas setapak tangan orang dewasa dibagian lambung atas sampai ke dada korban. Bahkan ada juga bekas strika dan tapak sepatu di dada korban.“Banyaknya bekas bekas aneh tadilah membuat kami meyakini kematian korban itu tidak wajar,” jelas paman korban mengaku akan membawa masalah ini ke hukum.

Tambah Sari lagi, sejak kematian anak sulungnya tersebut, sampai hari ini suaminya Dik tak pernah datang ke Padang Tualang menjenguk dirinya ataupun menanyakan kabar mereka.
“Nggak ada datang dia (Dik-red) kemari menanyakan kabar kami ataupun menanyakan kondisi anaknya yang baru lahir. Begitu juga dengan keluarganya, nggak ada yang menjenguk kami,” ketusnya seraya berharap polisi segera mengungkap kasus ini. 

Anak Bangsa :Menatap Mentari Di Kaki Ufuk Dengan Penuh Asa..........
read more...

Jumat, Juni 27, 2014

Diduga Perusahaan Tidak Memberikan Hak Hak Normatif Pekerja

Tampak depan PT Leong Ayam Satu Primadona yang tidak memiliki Plank Nama Perusahaan
Langkat - Reza Fahlevi
Sebanyak lebih dari 50 orang karyawan yang bekerja di PT Leong Ayam Satu Primadona, di Desa Serapuh ABC Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat diduga tidak mendapatkan hak hak normatif pekerja dan belum didaftarkan PT Leong Ayam Satu Primadona  ke Dinas Tenaga Kerja dan Tranmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Langkat.
 
Informasi yang dihimpun Selasa (24/6), dari Disnakertrans Kabupaten Langkat menyebutkan, PT Leong Ayam Satu Primadona, yang membuka usahanya di Desa Serapuh ABC Kecamatan Padang Tualang Kabupaten Langkat, belum  terdaftar di dinas tersebut, karyawan yang di pekerjakannya.
 
Kapala Bidang Pembinaan dan Pengasan Tenaga Kerja, Nila Wati di damping stafnya Anton Fahrizal, saat di konfirmasi terkait  PT Leong Ayam Satu Primadona mengatakan "Belum ada bang, yang namanya PT Leong Ayam Satu Primadona mendaftarkan perusahaan beserta tenaga kerja yang di pekerjakan mereka,”ucap Anton.
Dikatakannya, pihaknya pernah dengar tentang PT Ayam di Kecamatan Padang Tualang itu, namun kami tunggu perusahaan itu kemari, sebab kami tidak tau kalau PT Ayam itu sudah mulai beroperasi.
 
Terkait informasi dari warga setempat yang mengatakan PT Leong Ayam Satu Primadona itu sudah beroperasi, kami memang ada rencana akan kelokasi PT itu dalam waktu dekat ini,ucap Nila dan Anton.
 
Anton yang ditanya tentang kewajiban peusahaan mendaftarkan perusahaan serta tenaga kerjanya serta sanksi hukumnya, Anton mengatakan,"ada, sangsi hukum kepada perusahaan itu,ada undang-undang yang mengatur tentang wajib lapor perusahann itu, yaitu UU Nomor 7 tahun 1981, serta mengacu ke undang-undang tentang ketenaga kerjaan, yaitu UU Nomor 13 tahun 2013,”papar Anton.
 
Sebelumnya, Maneger PT Leong Ayam Satu Primadona, Rahmat, yang dihubungi wartawan via selulernya Senin (23/6) mengatakan kurang tau persis tentang karyawan itu, apakah sudah didaftarkan atau belum ke Disnakertrans Langkat. “Soal tenaga kerja yang di pekerjakan itu, saya kurang tau, sebab saya hanya membidangi tentang ayam nya saja,lanjut Rahmat lagi “Kalau mengenai tenaga kerja/karyawan yang bekerja di PT ini, itu sudah ada orang yang membidanginya, yaitu bagian personalia,”
 
Ketika ditanya lagi, terkait tentang jabatan maneger di PT Leong Ayam Satu Primadona yang disandangnya itu, seharusnya tau dan mengerti tentang tenaga kerja/karyawan yang di kerjakannya itu, soal sudah terdaftar atau belumnya ke Disnakertran Langkat, Rahmat kembali mengulangi jawaban, soal karyawan itu saya tidak tau, saya di bagian ayamnya saja, tegas Rahmat.
 
Di tempat terpisah di Stabat 27(6), Aktivis Lembaga Investigasi Tindak Pidana Korupsi dan Mafia Hukum Kinerja Aparatur Negara Reza Lubis,SH ketika di minta komentarnya mengatakan"masalah belum terdaftarnya PT Leong Ayam Satu Primadona, ke Disnakertrans Langkat, mengatakan, sangat menyesalkan sikap perusahaan tersebut.Seharusnya setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerjanya yang  lebih 50 orang itu, harus mendaftarkan karyawannya ke Disnakertran Langkat. hal ini harus dilakukan untuk menjamin kesejahteraan,keselamatan dan kesehatan kerja setiap karyawan yang bekerja disana dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Langkat harus proaktif tidak menunggu "bola"  dalam mendata dan melakukan pembelaan khususnya terhadap hak hak pekerja di perusahaan tersebut apalagi baru baru ini Langkat dinyatakan meraih penghargaan K3 dan apa yang terjadi di PT Leong Ayam Primadona tersebut tidak berbanding lurus dengan penghargaan diatas kertas tersebut yang diraih Langkat untuk ketiga kalinya tegas Reza. .
 
“Itu berarti PT tersebut belum mempunyai ikatan perjanjian antara karyawan dan perusahaan, maka untuk itu di mintakan, Pemekab Langkat khususnya Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi segara mengambil Langkah tegas, untuk melakukan pembelaan terhadap hak pekerja serta memberi sanksi hukum kepada perusahaan itu,”,seraya menambahkan, jika terjadi kecelakaan di lokasi kerja di perusahaan itu, maka perusahaan itu akan bisa buang buang bola dan kemungkinan pekerja tidak akan mendapatkan hak hak normatif mereka tutur Reza Lubis selanjutnya.
 
Di beberkannya, Perusahaan itu harus memberikan jaminan-jaminan kepada pekerjanya, di antaranya, Perusahaan itu harus mendaftarkan tenaga kerjanya untuk di jadikan peserta Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Hari Tua (JHT) serta Jaminan Kematian (JK), ucapnya Reza diakhir wawancara. 
Anak Bangsa :Menatap Mentari Di Kaki Ufuk Dengan Penuh Asa..........
read more...

Kamis, Juni 19, 2014

Di PN Stabat,Langkat Keluarga Korban Mengamuk terhadap Terdakwa Pembunuhan satu Keluarga .

Keluarga Korban Saat Mengamuk Di Depan Tahanan PN Stabat,Memukuli Terdakwa Rendi,(Rabu/18/6)
 Langkat - Prawito
Sidang lanjutan perkara pembunuhan sadis yang menewaskan satu keluarga atas nama korban Misman,Suliah istrinya,Dedek Pebrianto anak dan Tria Winanda Aulia yang masih duduk di bangku SMP Salapian, saat ditemukan mayatnya masih mengenakan seragam SMP.
Pembunuhan tersebut dilakukan oleh kedua terdakwa Alamsyah dan Rendi yang  melibatkan  dua orang oknum TNI AD berinisial P dan S,  9 Oktober 2013 lalu sekira pukul 21 00 wib di bukit setan areal perkebunan PTPN.2 Tanjung Keliling  Salapian yang sekarang PT Langkat Nusantara Kepong (LNK).Sekedar mengingatkan kedua terdakwa pembantai satu keluarga itu Alamsyah dan Rendi,Senin (16/6) dituntut hukuman pidana mati oleh jaksa penuntut umum.
               
Lanjutan sidang,Rabu (18/6) yang kembali digelar pengadilan negeri (PN) Stabat dipimpin ketua majelis hakim Sadri.SH dibantu dua hakim anggota dengan tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Lamro Simbolon.SH dan Andi Sitepu.SH dengan agenda sidang pembacaan nota pembelaan  (Pledoi) oleh Penasehat Hukum kedua terdakwa Alamsyah dan Rendi.
             
Sidang yang dikawal ketat petugas awalnya berjalan aman dan terkendali meskipun ruang sidang utama (Garuda) dipenuhi pengunjung keluarga korban,namun usai sidang saat kedua terdakwa dibawa menuju ruang tahanan (PN) Stabat puluhan keluarga korban keluar dari ruang sidang mengejar kedua terdakwa  memukuli salah satu terdakwa yaitu Rendi ,sehinga petugas pengawal tahanan kewalahan dan sempat kena pukul.

Bukan hanya polisi pengawal sidang saja yang kena pukul,namun jaksa yang menangani perkara ini Andi Sitepu turut menjadi sasaran kemarahan keluarga korban.Marahnya keluarga korban dengan jaksa,dianggap jaksa menunda-nunda sidang. Maksud keluarga korban kok ditunda lagi, tidak langsung divonis, teriak keluarga korban dengan jaksa,sehinga menimbulkan kemarahan keluarga korban yang akhirnya Andi Sitepu (Jaksa red) menjadi korban kebringasan mereka yang sudah membabibuta.

Tapi kita bisa maklumi mereka itu tidak faham dengan proses persidangan,padahal proses sidang tengah berjalan sesuai dengan peraturan dan perundang undangan  KUHAP.Senin semalam baru kita bacakan tuntutannya,nah hari ini,Rabu (18/8) pledoi nota pembelaan kedua terdakwa yang dibacakan Phnya,ya satu minggu lagi majelis hakim memberikan putusan terhadap kedua terdakwa,setelah rapat musyawarah majelis hakim,ujar Lamro Simbolon salah satu Jaksa yang menangani perkara pembunuhan tersebut.


Anak Bangsa :Menatap Mentari Di Kaki Ufuk Dengan Penuh Asa..........
read more...
 
Copyright © 2014 Anak Bangsa • All Rights Reserved.
Template Design by BTDesigner • Powered by Blogger
back to top