Minggu, Februari 16, 2014

Arsyad Thalib Lubis Putra Stabat,Langkat : Kristolog Batak Kharismatis


Nama lengkapnya Muhammad Arsyad Thalib Lubis. Ia dilahirkan di Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara pada bulan Ramadan 1326 H/Oktober 1908 M. Stabat adalah kota kecil berjarak sekitar 40 km ke arah Utara Kota Medan. Ayahnya bernama Lobai Thalib ibn H. Ibrahim Lubis. Dan ibunya Kuyon binti Abdullah atau Markoyom Nasution.  Sejak awal, Arsyad Thalib tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kuat tradisi Islamnya.Sejarah keilmuannya dapat dilacak jauh hingga ke Kerajaan Asahan, Sumatera Utara. Dua tahun setelah berakhirnya Perang Dunia I, tepatnya tahun 1916 M, Syeikh Abdul Hamid dan teman-temannya mendirikan satu instansi pendidikan Islam yang diberi nama Madrasah al-‘Ulum al-‘Arabiyah. Berikutnya, Madrasah ini menjadi instansi pendidikan ternama di Asahan, bahkan di Sumatera Utara, disamping ada Madrasah Islam Stabat-Langkat, Madrasah Islam Binjai, dan Madrasah al-Hasaniyah di Medan.

Karena keilmuannya yang mendalam, Arsyad Thalib Lubis digelar “Syeikh”. Ia sering dipanggil Syeikh Muhammad Arsyad Thalib Lubis. Ulama yang satu ini memang mumpuni dalam pelbagai cabang ilmu-ilmu Islam, seperti: Tawhid (Aqidah), Fiqh, Ushul Fiqh, Hadits, Sejarah, dan Kristologi. Tapi, keahliannya di bidang Kristologi lebih melambungkan namanya sebagai “kristolog besar” dari Sumatera.
Dalam bidang Aqidah, Syekh Arsyad dikenal sebagai sosok pengajar Tawhid yang mumpuni di UNIVA (Universitas Al-Washliyah), Sumatera Utara. Dalam bidang hadits, ia menulis buku Musthalah Hadits dan mengajarkan al-kutub al-sittah. Dan dalam bidang sejarah, ia menulis buku Sirah Nabawiyah. Meskipun seluruh cabang ilmu tersebut dipelajari secara tradisional (nyantri, mondok), di wilayah Sumatera Utara. Pada periode 1917-1930, ia pernah berguru kepada Syeikh Hasan Maksum di Medan untuk memperdalam ilmu: Tafsir, Hadits, Fiqh, dan Ushul Fiqh.

Kharismatik
Bukan hanya keilmuannya yang luas, Arsyad Thalib Lubis, hingga hari ini, juga dikenal sebagai sosok “kristolog” yang kharismatik. Penguasaannya terhadap sejarah dan doktrin agama-agama, khususnya Yahudi dan Kristen, sangat mendalam. Keahliannya di bidang kristologi dijadikan sebagai “alat” dakwah yang amat efektif di Tanah Batak. Buku pertama yang ditulisnya berjudul Rahasia Bible (1926), ketika ia masih berusia 26 tahun. Buku ini kemudian dicetak ulang pada tahun 1934. Buku ini pun menjadi rujukan penting bagi para da’i ormas Al-Washliyah saat menyebarkan agama Islam di Porsea, Tapanuli Utara.

Tapi, perlu dicatat, kristologi yang dijadikan alat dakwah oleh Arsyad Thalib Lubis merupakan respon terhadap gerakan zending Kristen yang masuk ke Sumatera Utara. Sebagaimana yang ditulis oleh Arifinsyah, Mardhiah Abbasm, Zulkarnaen, dan Sakti Sinaga dalam M. Arsyad Thalib Lubis (1908-1972) dan Penetrasi Misi Kristen di Sumatera Utara. 

Zending Kristen yang masuk ke Sumatera Utara berusaha untuk menyebarkan Injil di kalangan masyarakat Batak. Inilah buah motivasi Sir Thomas Stamford Reffles, wakil kerajaan Inggris di Sumatera. Kemudian pada 1840, seorang antroplog, Frans W. Junghum (1804-1864) dari Jerman diutus oleh pemerintah Belanda untuk membuat kajian dan penyelidikan di Tanah Batak. Hasil penelitiannya berjudul Keadaan Tanah Batak menarik missionaris Van Der Tuuk untuk mengkristenkan orang Batak pada tahun 1848. Dan puncak gerakan kristenisasi di Tanah Batak adalah dengan hadirnya pendeta Ludwig I Nommensen (l. 6 Februari 1834). Ia meninggal di Sigumpar, dekat Balige, Sumatera Utara, tanggal 23 Mei 1918.

Masih menurut Arifinsyah dan kawan-kawannya, karena kepiawaian Nommensen dalam mengkristenkan orang-orang Batak, dia mendapat julukan “Rasul Orang Batak”. Kejayaannya menanamkan agama Kristen, mulai dari lembah Silindung hingga ke Ujung Utara Keresidenan Tapanuli telah mendapat pengargaan Doctor Hononoricausa (HC) dalam teologi dari Belanda tahun 1881, Doctor teologi dari Universitas Bonn (Jerman) tahun 1904, dan diberi gelar pengawas (Ephorus) oleh RMG (Rhijuse Mission Gelseschaft).
Saat Nommensen meninggal pada 23 Mei 1918, gereja telah membaptis lebih 180.00 orang Batak. Sekolah-sekolah berjumlah 510 buah dan mempunyai 32.700 orang murid yang terdaftar. Gereja telah dipimpin oleh 34 orang pendeta Batak dan dibantu oleh 788 orang guru Injil dan 2.200 orang Sintua (ketua gereja kampung).

Maka,  sangat mafhum, jika kemudian Arsyad Thalib Lubis mengambil pelajaran dari sejarah kristenisasi di atas dan mencoba mendakwahkan Islam: agar kembali ke Tanah Batak. Dia kemudian keluar-masuk kampung yang ada di Tanah Batak dan Tanah Karo untuk berdialog dan berdiskusi tentang kristianitas. Tidak sedikit penduduk kemudian memeluk Islam. Diantara dialog yang pernah dilakoninya adalah: dengan pendeta Rivai Burhanuddin (Pendeta Kristen Advent), Van Den Hurk (Kepalar Gereja Katolik Sumatera Utara), dan Dr. Sri Hardono (tokoh Kristen Katolik).

Selain dialog dan diskusi seputar kristianitas, Syeikh Arsyad juga menulis beberapa karya mengenai Kristen, diantaranya: Rahasia Bible, Keesaan Tuhan Menurut Kristen dan Islam, Perbandingan Agama Islam dan Kristen, dan Berdialog dengan Kristen Adventis. Dalam buku-buku ini, Syeikh Arsyad menjelaskan hakikat agama Kristen dan doktrin-doktrinnya.

Banyak ilmuwan di Indonesia dan Malaysia mengakui keunggulan karya monumental Perbandingan Agama Islam dan Kristen (Medan, 1969). Buku setebal 478 ini diterbitkan kembali oleh penerbit Firman “Islamiyah”, (Medan: 1403 H/1983 M). Di Malaysia, buku ini terakhir kali dicetak tahun 1982.  Pakar perbandingan agama dari Universitas Islam Internasional Malaysia, Dr. Kamaroniah Kamaruzzaman, memuji kualitas karya Syeikh Arsyad tersebut.

Di buku inilah dibandingkan beberapa ajaran penting yang ada dalam Islam dan Kristen, seperti: pokok ajaran Islam-Kristen, dosa warisan, penebusan dosa, ketuhanan Yesus, kitab-kitab suci: Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an, dan nubuwat Nabi Muhammad dalam Bible. Intinya, Arsyad Thalib Lubis banyak mengkaji secara kritis dogma-dogma Kristen lewat kacamata tulisan sarjana Kristen, Islam, dan rasio.
Dakwah Arsyad Thalib Lubis melalui kristologi sangat terasa hasilnya. Kehadirannya disenangi oleh masyarakat Batak (Porsea) dan Tanah Karo. Karyanya “Pedoman Gndek” (Pedoman Singkat) yang diterjemahkan oleh Terang Ginting dan “Pokok-pokok Ajaran Islam” merupakan karyanya yang disebarkan ke tengah-tengah masyarakat. Akhirnya, beberapa masyarakat di daerah yang masih menganut animisme seperti Kecamatan Tiga Binanga dan Kutalimbaru banyak yang menganut Islam. Hingga hari ini, Islam di Tiga Binanga dan daerah lainnya seperti Tiga Beringin, Pancur Jawi (semuanya berada dalam Kecamatan Tiga Binanga) Islamnya dikenal kuat.

Setelah sekian lama mengemban misi dakwah Islam, Arsyad Thalib Lubis menghadap Allah pada 25 Jumadil Awwal 1392 H/6 Juli 1972 M. Kini, bumi Sumatera Utara menunggu penerus jejak kristolog kharismatis yang tak kenal lelah dalam menggali ilmu dan berdakwah ini. 

Sumber : http://kissanak.wordpress.com


Anak Bangsa :Menatap Mentari Di Kaki Ufuk Dengan Penuh Asa..........
read more...

Jumat, Februari 07, 2014

PAHLAWAN NASIONAL Sersan Anumerta KKO USMAN (Janatin bin Haji Muhammad Ali) & Kopral Anumerta KKO HARUN (Tohir bin Said)

USMAN alias JANATIN

Nama asli Usman adalah Janatin. Lahir di desa Tawangsari Kelurahan Jatisaba Kabupaten Purbalingga, tanggal 18 Maret 1943 dari keluarga Haji Muhammad Ali dengan Ibu Rukiah.
Setelah menamatkan Sekolah Dasar, Harun melanjutkan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di Jakarta. tanpa diketahui keluarganya, untuk biaya hidup dan sekolahnya Harun membiayai sendiri, dengan bekerja sebagai pelayan kapal dagang. 

Tahun 1962 Janatin mengikuti pendidikan militer di Malang yang dilaksanakan oleh Korps Komando Angkatan Laut. Pendidikan ini dilaksanakan guna pengisian personil yang dibutuhkan dalam menghadapi Trikora. Karena itulah Korps Komando Angkatan Laut membuka Sekolah Calon Tamtama (Secatamko) angkatan ke – X.

Pendidikan dasar militer dilakasanakan di Gunung Sahari. Pendidikan Amphibi dilaksanakan di pusat latihan Pasukan Pendarat di Semampir. Pada akhir seluruh pendidikan diadakan latihan puncak di daerah Purboyo Malang selatan dalam bentuk Suroyudo. Semua pendidikan ini telah diikuti oleh Janatin sampai selesai, sehingga ia berhak memakai baret ungu.

Bulan April 1964 di Cisarua Bogor selama satu bulan, Janatin mengikuti pendidikan tambahan untuk : Inteljen, kontra inteljen, sabotase, Demolisi, gerilya, perang hutan dan lain-lain. Dengan bekal dari latihan di Cisarua ini, diharapkan dapat bergerak di daerah lawan untuk mengemban tugas nantinya.
HARUN alias TOHIR
Sama halnya dengan Usman, Harun bukanlah nama aslinya. Harun terlahir dengan nama TOHIR bin SAID tanggal 4 April 1943 di Pulau Keramat Bawean (sebuah pulau kecil di sebelah utara Surabaya). Tohir adalah anak ketiga dari Pak Mandar dengan ibu Aswiyani.

Sejak ia menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama untuk biaya hidup dan sekolah ia menjadi pelayan kapal dagang. Hal ini yang menyebabkan Tohir mengenal dan hafal daerah daratan Singapura sebab seringkali ia berhari-hari lamanya tinggal di Pelabuhan Singapura.
Setelah menamatkan Sekolah Dasar, Harun melanjutkan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di Jakarta. tanpa diketahui keluarganya, untuk biaya hidup dan sekolahnya Harun membiayai sendiri, dengan bekerja sebagai pelayan kapal dagang. 

Masuk Angkatan Laut bulan Juni 1964, dan ditugaskan dalam Tim Brahma I di Basis II Ops A KOTI. Di sini ia bertemu dengan Usman alias Janatin bin H. Mohammad ALI dan Gani bin Aroep. Ketiga pemuda ini bergaul cukup erat, lebih-lebih setelah mereka sering ditugaskan bersama sama.

Bergabung dalam Dwikora dengan pangkat Prajurit KKO II (Prako II) Tohir mendapat gemblengan selama lima bulan, di daerah Riau daratan dan pada tanggal 1 April 1965 dinaikkan pangkatnya menjadi Kopral KKO I (Kopko I).

DWIKORA
Pada 31 Agustus 1957 berdirilah negara Persemakmuran Malaya. Singapore ingin bergabung dalam persemakmuran namun ditolak oleh Inggris. Lalu pada 16 September 1963 dibentuk federasi baru bernama Malaysia yang merupakan negara gabungan Singapura, Kalimantan Utara (Sabah), dan Sarawak. Kesultanan Brunei kendatipun ingin bergabung dengan Malaysia, namun tekanan oposisi yang kuat lalu menarik diri. Alasan utama penarikan diri adalah Brunei merasa memiliki banyak sumber minyak, yang nanti akan jatuh ke pemerintahan pusat (Malaysia).

Indonesia dibawah kepemimpinan presiden Soekarno yang sejak semula amat menentang pembentukan negara tersebut lalu mengirimkan pasukannya untuk membubarkan negara yang sudah lahir
Konfrontasi Indonesia - Malaysia pada tahun 1963 timbul sebagai akibat dari pernyataan sikap Indonesia yang menentang penyatuan Malaysia. memuncak. Presiden Soekarno mengeluarkan DWIKORA pada tanggal 3 Mei 1964. Kemarahan Soekarno disulut oleh tindakan profokatif dari Federasi Tanah Melayu yang menginginkan (atas ide dan persetujuaan Inggris) menggabungkan Federasi Tanah Melayu, Singapura, Brunei, Serawak dan Sabah (Borneo Utara).

Komando tersebut mendapat sambutan dari lapisan masyarakat, termasuk ABRI. Hal ini terbukti bahwa rakyat Indonesia berbondong-bondong mendaftarkan diri sebagai sukarelawan Dwikora sehingga mencapai jumlah 21 juta sukarelawan. Gelar pasukan sebagai upaya propaganda mulai dilakukan, mengingat persenjataan Indonesia pada waktu itu memang kuat dan termodern.Para sukarelawan menggunakan nama samaran, nama disesuaikan dengan nama-nama daerah lawan yang dimasuki. Janatin mengganti namanya dengan Usman dan disambungkan dengan nama orang tuanya Haji Muhammad Ali (Usman bin Haji Muhammad Ali). Sedangkan Tohir menggunakan nama samaran Harun (Harun bin Said). 

OPERASI DWIKORA
Baru saja TNI AL selesai melaksanakan tugas-tugas operasi dalam mengembalikan Irian Barat ke wilayah kekuasaan RI, timbul lagi masalah baru yang harus dihadapi oleh seluruh bangsa Indonesia, dengan dikomandokannya Dwikora oleh Presiden Sukarno.
Pasukan Sukarelawan
saat diterima oleh Oey Tjoe Tat
(menteri negara)

Penggunaan tenaga sukarelawan ini membawa dampak yang besar. Dilihat dari segi positifnya memang sangat menguntungkan, karena perang yang akan dihadapi tidak secara frontal, sehingga akan membingungkan pihak lawan. Tetapi dari segi negatif kurang menguntungkan, karena apabila sukarelawan itu tertangkap ia akan diperlakukan sebagai penjahat biasa, jadi bukan sebagai tawanan perang di lindungi oleh UU Perang.

Untuk melindungi Operasi tersebut di atas, KOTI kemudian memutuskan untuk mempergunakan tenaga-tenaga militer lebih banyak guna mendampingi sukarelawan-sukarelawan tersebut, memperkuat kekuatan Sukarelawan Indonesia di daerah musuh.

Untuk mendukung Operasi A. KKO AL mengirimkan 300 orang anggota yang terdiri dari Kopral sampai Perwira. Sebelum melaksanakan Operasi A. mereka diwajibkan mengikuti pendidikan khusus di Cisarua Bogor. Selesai latihan mereka dibagi dalam tim-tim dengan kode Kesatuan Brahma dan ditugaskan di daerah Semenanjung Malaya (Basis II) dan di Kalimantan Utara (Basis IV).

Yang dikerahkan di Semenanjung Malaya terdiri dari tim Brahma I beranggotakan 45 orang, tim Brahma II 50 orang, tim Brahma III 45 orang dan tim Brahma V 22 orang.

Semenanjung Malaya (Basis II) dibagi beberapa Sub. Basis:
  1. Sub Basis X yang berpangkalan di P. Sambu dan Rengat dengan sasaran Singapura.
  2. Sub. Basis Y dengan sasaran Johor bagian barat dan Pangkalan Tanjung Balai.
  3. Sub. Basis T yang berpangkalan di P. Sambu dengan sasaran Negeri Sembilan, Selangor dan Kuala Lumpur.
  4. Sub. Basis Z dengan sasaran Johor bagian timur.
Sedangkan Tugas Basis II:
  1. Mempersiapkan kantong gerilya di daerah lawan.
  2. Melatih gerilyawan dari dalam dan mengembalikan lagi ke daerah masing-masing.
  3. Melaksanakan demolision, sabotase pada obyek militer maupun ekonomis.
  4. Mengadakan propaganda, perang urat syarat
  5. Mengumpulkan informasi.
  6. Melakukan kontra inteljen.
Gelar Pasukan yang dilakukan KKO
sebagai tanggapan atas DWIKORA
Dalam operasi ini Usman melakukan tugas ke wilayah Basis II. A Koti, ia berangkat menuju Pulau Sambu sebagai Sub Basis dengan menggunakan kapal jenis MTB. Kemudian menggabungkan diri dengan Tim Brahma I di bawah pimpinan Kapten Paulus Subekti yang pada waktu itu menyamar dengan pangkat Letkol KKO - AL dan merangkap menjadi Komandan Basis X yang berpangkalan di Pulau Sambu Riau. Ketika Janatin (Usman) menggabungkan dengan kawan-kawannya,, ia berkenalan dengan Tohir (Harun) dan Gani bin Arup, mereka ini merupakan sahabat yang akrab dalam pergaulan. Mereka mendapat tugas yang sama untuk mengadakan sabotase di Singapura.
Infiltrasi pasukan (yang dinamakan oleh Singapore sebagai Teroris) dilakukan. Gedung Hongkong dan Shanghai Bank yang lebih terkenal dengan nama MacDonald House berhasil diledakkan oleh pasukan Indonesia.

BERGANTI NAMA

Selesai mendapatkan gemblengan di Riau daratan sebagai Sukarelawan Tempur bersama-sama rekan-rekan lainnya, ia dikirim ke Pulau Sambu hingga beberapa lama dalam kesatuan A KOTI Basis X. Tohir sendiri telah ke Singapura beberapa kali, dan sering mendarat ke Singapura menyamar sebagai pelayan dapur, menggunakan kapal dagang yang sering mampir ke Pulau Sambu untuk mengisi bahan bakar.
Karena ketatnya penjagaan daerah lawan dan sukar ditembus maka satu-satunya jalan yang ditempuh ialah menyamar sebagai pedagang yang akan memasukkan barang dagangannya ke wilayah Malaysia dan Singapura. Usaha tersebut kelihatan membawa hasil yang memuaskan, karena dengan jalan ini anggota sukarelawan berhasil masuk ke daerah lawan yang kemudian dapat memperoleh petunjuk yang diperlukan untuk melakukan tindakan selanjutnya.

Dari penyamaran sebagai pedagang ini banyak diperoleh data yang penting bagi para Sukarelawan untuk melakukan kegiatan. Dengan taktik demikian para Sukarelawan telah berhasil menyusup beberapa kali ke luar masuk daerah musuh.

Untuk memasuki daerah musuh agar tidak menimbulkan kecurigaan lawan, para sukarelawan menggunakan nama samaran, nama di sini disesuaikan dengan nama-nama dimana daerah lawan yang dimasuki. Demikian Janatin mengganti namanya dengan Usman dan disambungkan dengan nama orang tuanya Haji Muhammad Ali. Sehingga nama samaran ini lengkapnya Usman bin Haji Muhammad Ali. Sedangkan Tohir menggunakan nama samaran Harun, dan lengkapnya Harun bin Said.

Wajah Tohir yang mirip-mirip Cina itu ternyata sangat menguntungkan dalam penyamarannya didukung dengan Bahasa Inggris, Cina dan Belanda yang dikuasai dengan lancar sangat membantu dalam kebebasannya untuk bergerak dan bergaul di tengah-tengah masyarakat Singapura yang mayoritas orang Cina
Dengan nama samaran ini Usman, Harun dan Gani melakukan penyusupan ke daerah Singapura untuk melakukan penyelidikan dan pengintaian tempat-tempat yang dianggap penting. Sedangkan di front belakang telah siap siaga kekuatan tempur yang setiap saat dapat digerakkan untuk memberikan pukulan terhadap lawan. Kekuatan ini terus bergerak di daerah sepanjang perbatasan untuk mendukung para Sukarelawan yang menyusup ke daerah lawan dan apabila perlu akan memberikan bantuan berupa perlindungan terhadap Sukarelawan yang dikejar oleh musuh di daerah perbatasan.
PENYUSUPAN
8 Maret 1965 tengah malam buta, saat air laut tenang ketiga Sukarelawan ini memasuki Singapura. Mereka mengamati tempat-tempat penting yang akan dijadikan obyek sasaran hingga larut malam. Setelah memberikan laporan singkat, mereka mengadakan pertemuan di tempat rahasia untuk melaporkan hasil pengamatan masing-masing dan kembali ke induk pasukannya, yaitu Pulau Sambu (Basis II).

Pada malam harinya mereka berkumpul kembali untuk merencanakan tugas-tugas yang haru dilaksanakan, disesuaikan dengan hasil penyelidikan mereka masing-masing. Setelah memberikan laporan singkat, mereka mengadakan perundingan tentang langkah yang akan ditempuh.

Karena belum adanya rasa kepuasan tentang penelitian singkat yang mereka lakukan, ketiga Sukarelawan di bawah Pimpinan Usman, bersepakat untuk kembali lagi ke daerah sasaran untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam. Mereka akhirnya memutuskan untuk melakukan peledakan Hotel Mac Donald, yang terletak di Orchad Road yang merupakan pusat keramaian di kota Singapura.

Siang harinya di tengah-tengah kesibukan dan keramaian kota Singapura ketiga sukarelawan bergerak menuju ke sasaran yang ditentukan, tetapi karena pada saat itu suasana belum mengijinkan akhirnya mereka menunggu waktu yang paling tepat untuk menjalankan tugas. Setelah berangsur angsur sepi, mulailah mereka menyusup untuk memasang bahan peledak seberat 12,5 kg.
8 Maret 1965 malam, berbekal 12,5 kg bahan peledak mereka bertolak dengan perahu karet dari P Sambu. Mereka dapat menentukan sendiri sasaran yang dikehendaki. Maka setelah melakukan serangkaian pengintaian, pada suatu tengah malam terjadi ledakan di sebuah bangunan Mc Donald di Orchard Road.  Tohir yang mirip-mirip Cina itu ternyata sangat menguntungkan dalam penyamarannya. Bahasa Inggeris, Cina dan Belanda yang dikuasai dengan lancar telah membantu pula dalam kebebasannya untuk bergerak dan bergaul di tengah-tengah masyarakat Singapura yang mayoritas orang Cina. 



Pada hari itu juga mereka berkumpul kembali untuk kembali ke pangkalan. Situasi menjadi sulit, seluruh aparat keamanan Singapura dikerahkan untuk mencari pelaku yang meledakkan Hotel Mac Donald. Melihat situasi demikian sulitnya, lagi pula penjagaan sangat ketat, tidak ada celah untuk bisa ditembus.
sesaat setelah Pegeboman
Sulit bagi Usman, Harun dan Gani keluar dari wilayah Singapura. Akhirnya mereka sepakat untuk menerobos penjagaan dengan menempuh jalan masing masing, Usman bersama Harun, sedangkan Gani bergerak sendiri.

Tanggal 11 Maret 1965 Usman dan anggotanya bertemu kembali. Sebelum berpisah Usman menyampaikan pesan kepada anggotanya, barang siapa yang lebih dahulu sampai ke induk pasukan, supaya melaporkan hasil tugas telah dilakukan kepada atasan.
 
10 Maret 1965 03.07 dini hari, Harun Said, Bersama dengan seorang anggota KKO lainnya bernama Usman, melakukan Pengeboman di wilayah pusat kota Singapura tepat pada  gedung MacDonald House. Tanggal 10 Maret 1965,jam 15:07 petang sebuah bom waktu ditanam pada dekat lift pada lantai mezzanine dari gedung berlantai sepuluh ini .terjadilah ledakan dahsyat yang berasal dari bagian bawah Hotel Mac Donald. Beberapa penghuni hotel dan toko ada yang tertimbun oleh reruntuhan sehingga mengalami luka berat dan ringan.

20 buah toko di sekitar hotel itu mengalami kerusakan berat, 24 buah kendaraan sedan hancur, 3 orang meninggal, 35 orang mengalami luka-luka berat dan ringan. Saat terjadi ledakan, orang-orang berhamburan ke luar hotel, dan di antara orang-orang yang berdesakan ingin keluar dari hotel tersebut adalah Usman.

Akibat ledakan dua warga cina Suzie Choo, 36 dan Nona Juliet Goh,23 yang sedang bekerja disana langsung tewas seketika. Menyusul seorang warga melayu tewas dan 33 lainnya cedera. Untunglah beberapa menit sebelumnya bank telah tutup (jam 15:00), sehingga korban tidak bertambah.



Pengeboman MacDonald House terjadi pada tanggal 10 Maret 1965 di gedung Hongkong and Shanghai Bank (dikenal dengan nama MacDonald House) yang terletak di Orchard Road, Singapura. Bom waktu tersebut dipasang oleh dua orang Indonesia yang merupakan anggota Korps Komando Operasi, Harun Said dan Usman Hj Mohd Ali pada saat berlangsungnya Konfrontasi. Tiga orang meninggal dunia dan sedikitnya 33 orang dicederai.


GAGAL KEMBALI KE PANGKALAN
Usman yang bertindak sebagai pimpinan belum faham betul dengan daerah Singapura, walaupun ia sering memasuki daerah ini. Karena itu Usman meminta kepada Harun supaya mereka bersama-sama mencari jalan keluar ke pangkalan. Untuk menghindari kecurigaan, mereka berjalan saling berjauhan, seolah-olah kelihatan yang satu dengan yang lain tidak ada hubungan sama sekali.

Dengan berbagai usaha akhirnya mereka berdua dapat memasuki pelabuhan Singapura dan menaiki kapal dagang Begama yang pada waktu itu akan berlayar menuju Bangkok. Keduanya menyamar sebagai pelayan dapur.

11 Maret 1965, Sebelum berpisah mereka bertemu kembali, dan berjanji barang siapa yang lebih dahulu sampai ke induk pasukan, supaya melaporkan hasil tugas telah dilakukan kepada atasan. 
12 Maret 1965,  dalam upaya kembali ke pangkalan, Usman bersama Harun pisah dengan Gani.mereka berdua dapat memasuki pelabuhan Singapura dan menaiki kapal dagang Begama yang pada waktu itu akan berlayar menuju Bangkok. Keduanya menyamar sebagai pelayan dapur.
Kapten kapal Begama mengetahui ada dua orang yang bukan anak buahnya berada dalam kapal, lalu mengusir mereka dari kapal. mereka diacam akan dilaporkan kepada Polisi apabila tidak mau pergi dari kapal. Kapten Kapal tidak mau mengambil resiko kapalnya ditahan oleh pemerintah Singapura.

13 Maret 1965 Usman dan Harun meninggalkan kapal Begama dan mendapat rampasan sebuah motorboat, dalam perjalanan boat macet. Mereka tak dapat menghindar dari sergapan patroli. Pukul 09.00 pagi di hari itu, Usman dan Harun tertangkap dan di bawa ke Singapura sebagai tawanan. kurang lebih 8 bulan telah meringkuk di dalam penjara Singapura sebagai tawanan. 
Dua prajurit KKO, Usman Said dan Harun Ali tertangkap oleh satuan khusus anti teror Singapore (dan Inggris)

1 April 1965 dinaikkan pangkatnya menjadi Kopral KKO I (Kopko I). 

DIADILI
Usman dan Harun selama kurang lebih 8 bulan telah meringkuk di dalam penjara Singapura sebagai tawanan.
4 Oktober 1965 Usman dan Harun di hadapkan ke depan sidang Pengadilan Mahkamah Tinggi (High Court) Singapura dengan J. Chua sebagai Hakim. Usman dan Harun dihadapkan ke Sidang Pengadilan Tinggi (High Court) Singapura dengan tuduhan:
  1. Menurut ketentuan International Security Act Usman dan Harun telah melanggar Control Area.
  2. Telah melakukan pembunuhan terhadap tiga orang.
  3. Telah menempatkan alat peledak dan menyalakannya.
Dalam proses pengadilan ini, Usman dan Harun tidak dilakukan pemeriksaan pendahuluan, sesuai dengan Emergency Crimina Trials Regulation tahun 1964. Dalam Sidang Pengadilan Tinggi (Hight Court) Usman dan Harun telah menolak semua tuduhan itu dan mereka memberi pernyataan bahwa apa yang mereka lakukan bukan kehendak sendiri, karena dalam keadaan perang. Oleh karena itu mereka meminta kepada sidang supaya mereka dilakukan sebagai tawanan perang/POW (Prisoner of War). Namun Hakim menolak permintaan mereka dengan alasan sewaktu kedua tertuduh tertangkap tidak memakai pakaian militer.

Persidangan berjalan kurang lebih dua minggu.
20 Oktober 1965 Sidang Pengadilan Tinggi (Hight Court) yan dipimpin oleh Hakim J. Chua memutuskan bahwa Usman da Harun telah melakukan sabotase dan mengakibatkan meninggalnya tiga orang sipil. Dengan dalih ini, kedua tertuduh dijatuhi hukuman mati.

20 Oktober 1965, dipersidangan yang berjalan kurang lebih dua minggu, Pengadilan Tinggi (Hight Court) yan dipimpin oleh Hakim J. Chua memutuskan bahwa Usman dan Harun telah melakukan sabotase dan mengakibatkan meninggalnya tiga orang sipil. Dengan dalih ini, kedua tertuduh dijatuhi hukuman mati.

6 Juni 1966 Usman dan Harun mengajukan naik banding ke Federal Court of Malaysia dengan Hakim yang mengadilinya: Chong Yiu, Tan Ah Tah dan J.J. Amrose. 

5 Oktober 1966 Federal Court of Malaysia menolak perkara naik banding Usman dan Harun.

17 Februari 1967 perkara tersebut diajukan lagi ke Privy Council di London.
Dalam kasus ini Pemerintah Indonesia menyediakan empat Sarjana Hukum sebagai pembela yaitu Mr. Barga dari Singapura, Noel Benyamin dari Malayasia, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja SH dari Indonesia, dan Letkol (L) Gani Djemat SH Atase ALRI di Singapura.

USAHA DIPLOMATIS
Dalam kasus ini Pemerintah Indonesia menyediakan empat Sarjana Hukum sebagai pembela yaitu Mr. Barga dari Singapura, Noel Benyamin dari Malayasia, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja SH dari Indonesia, dan Letkol (L) Gani Djemat SH Atase ALRI di Singapura. 
4 Mei 1968 Menteri Luar Negeri Adam Malik berusaha melalui Menteri Luar Negeri Singapura membantu usaha yang dilakukan KBRI. Ternyata usaha inipun mengalami kegagalan
21 Mei 1968,Usaha Privy Council  itu gagal. tetap ditolak

Usaha terakhir adalah mengajukan permohonan grasi dari Presiden Singapura Yusuf bin Ishak pada tanggal 1 Juni 1968. Bersamaan dengan itu usaha penyelamatan kedua prajurit oleh Pemerintah Indonesia makin ditingkatkan. Kedutaan RI di Singapura diperintahkan untuk mempergunakan segala upaya yang mungkin dapat dijalankan guna memperoleh pengampunan. Setidak-tidaknya memperingan kedua sukarelawan Indonesia tersebut.

Pada tanggal . Pada tanggal 9 Oktober 1968 Menlu Singapura menyatakan bahwa permohonan grasi atas hukuman mati Usman dan Harun ditolak oleh Presiden Singapura.

10 Oktober 1968, Atase AL Letkol Gani Djemat SH kembali ke Singapura membawa surat Presiden Soeharto untuk Presiden dan PM Singapura. Tapi gagal menyerahkan surat-surat itu langsung kepada yang bersangkutan. Presiden Singapura sedang sakit. PM Lee Kwan Yew tak dapat dihubungi karena sibuk.

15 Oktober 1968 Presiden Suharto mengirim utusan pribadi, Brigjen TNI Tjokropanolo ke Singapura untuk menyelamatkan kedua patriot Indonesia. Pada saat itu PM Malaysia Tengku Abdulrahman juga meminta kepada Pemerintah Singapura agar mengabulkan permintaan Pemerintah Indonesia. Namun Pemerintah Singapura tetap pada pendiriannya tidak mengabulkannya. Bahkan demi untuk menjaga prinsip-prinsip tertib hukum,
Rabu, 16.00, 
16 Oktober 1968, Brigjen TIN Tjokropranolo sebagai utusan pribadi Presiden Suharto datang ke penjara Changi. Dengan diantar Kuasa Usaha Republik Indonesia di Singapura Kolonel A. Ramli dan didampingi Atase Angkatan Laut Letkol (G) Gani Djemat SH, menemui Usman dan Harun.
Pertemuan yang mengharukan tetapi membanggakan. Usman dan Harun segera mengambil sikap sempurna dan memberikan hormat serta memberikan laporan lengkap, ketika Letkol Gani Djemat SH memperkenalkan Brigjen Tjokropranolo sebagai utusan Presiden Suharto. Sikap yang demikian membuat Brigjen Tjokropranolo hampir tak dapat menguasai diri dan terasa berat untuk menyampaikan pesan. Pertemuan ini membawa suasana haru, sebagai pertemuan Bapak dan Anak yang mengantarkan perpisahan yang tak akan bertemu lagi untuk selamanya.
Pesan yang disampaikan adalah bahwa Presiden Suharto telah menyatakan mereka sebagai Pahlawan dan akan dihormati oleh seluruh rakyat Indonesia, kemudian menyampaikan salut atas jasa mereka berdua terhadap Negara.
Kolonel A. Rambli dalam kesempatan itu pula menyampaikan, bahwa Presiden Suharto mengabulkan permintaan mereka untuk dimakamkan berdampingan di Indonesia.
Sebelum berpisah Usman dan Harun dengan sikap sempurna menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden RI Jenderal Suharto atas usahanya, kepada Jenderal Panggabean, kepada mahasiswa dan pelajar, Sarjana Hukum serta seluruh Rakyat Indonesia yang telah melakukan upaya untuk membebaskan mereka dari hukuman mati. Saat pertemuan berakhir, Sersan KKO Usman memberikan aba-aba, dan keduanya memberi hormat  kepada para utusan. 
 Singapura tetap akan melaksanakan hukuman mati terhadap dua orang KKO Usman dan Harun, yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 Ok tober 1968 pukul 06.00 pagi waktu Singapura.

Permintan terakhir Presiden Suharto agar pelaksanaan hukuman terhadap kedua mereka ini dapat ditunda satu minggu untuk mempertemukan kedua terhukum dengan orang tuanya dan sanak farmilinya juga ditolak oleh Pemerintah Singapura tetap pada keputusannya, melaksanakan hukuman gantung terhadap Usman dan Harun.

Waktu berjalan terus dan sampailah pada pelaksanaan hukuman, dimana Pemerintah Singapura telah memutuskan dan menentukan bahwa pelaksanaan hukuman gantung terhadap Usman dan Harun tanggal 17 Oktober 1968, tepat pukul 06.00 pagi. Para pemimpin Indonesia terus berusaha untuk menyelesaikan masalah ini, sebab merupakan masalah nasional yang menyangkut perlindungan dan pem belaan warga negaranya.

Rabu sore tanggal 16 Oktober 1968, Brigjen TIN Tjokropranolo sebagai utusan pribadi Presiden Suharto datang ke penjara Changi. Dengan diantar Kuasa Usaha Republik Indonesia di Singapura Kolonel A. Ramli dan didampingi Atase Angkatan Laut Letkol (G) Gani Djemat SH, menemui Usman dan Harun pada pukul 16.00.

Sebuah pertemuan yang mengharukan tetapi membanggakan. Usman dan Harun segera mengambil sikap sempurna dan memberikan hormat serta memberikan laporan lengkap, ketika Letkol Gani Djemat SH memperkenalkan Brigjen Tjokropranolo sebagai utusan Presiden Suharto. Sikap yang demikian membuat Brigjen Tjokropranolo hampir tak dapat menguasai diri dan terasa berat untuk menyampaikan pesan. Pertemuan ini membawa suasana haru, sebagai pertemuan Bapak dan Anak yang mengantarkan perpisahan yang tak akan bertemu lagi untuk selamanya.

Pesan yang disampaikan adalah bahwa Presiden Suharto telah menyatakan mereka sebagai Pahlawan dan akan dihormati oleh seluruh rakyat Indonesia, kemudian menyampaikan salut atas jasa mereka berdua terhadap Negara.

Kolonel A. Rambli dalam kesempatan itu pula menyampaikan, bahwa Presiden Suharto mengabulkan permintaan mereka untuk dimakamkan berdampingan di Indonesia.



17 Oktober 1968 Pukul 05.00 subuh kedua tawanan itu dibangunkan oleh petugas penjara, kemudian disuruh sembahyang menurut agamanya masing-masing. Setelah melakukan sembahyang Usman dan Harun dengan tangan diborgol dibawa oleh petugas ke kamar kesehatan untuk dibius. Dalam keadaan terbius dan tidak sadar masing-masing urat nadinya dipotong oleh dokter tersebut, sehingga mereka berdua lumpuh sama sekali. Lalu Usman dan Harun dibawa menuju ke tiang gantungan. 
Kamis 17 Oktober 1968 (Radjab 1388) pukul 06.00 pagi waktu Singapura. Harun meninggal di Singapura, pada umur 21 tahun. ia dihukum gantung oleh pemerintah Singapura.

SURAT TERAKHIR USMAN


Dihaturkan :
Bunda ni Haji Mochamad Ali
Tawangsari.


Dengan ini anaknda kabarkan bahwa hingga sepeninggal surat ini tetap mendo'akan Bunda, Mas Choenem, Mas Matori, Mas Chalim, Ju Rochajah, Ju Rodiijah + Tur dan keluarga semua para sepuh Lamongan dan Purbalingga Laren Bumiayu.


Berhubung rayuan memohon ampun kepada Pemerintah Republik Singapura tidak dapat dikabulkan maka perlu ananda menghaturkan berita duka kepangkuan Bunda dan keluarga semua di sini bahwa pelaksanaan hukuman mati ke atas ananda telah diputuskan pada 17 Oktober 1968 Hari Kamis Radjab 1388.


Sebab itu sangat besar harapan anaknda dalam menghaturkan sudjud di hadapan bunda, Mas Choenem, Mas Madun, Mas Chalim, Jur Rochajah, Ju Khodijaht Turijah para sepuh lainnya dari Purbolingga Laren Bumiayu Tawangsari dan Jatisaba sudi kiranya mengickhlaskan mohon ampun dan maaf atas semua kesalahan yang anaknda sengaja maupun yang tidak anaknda sengaja.


Anaknda di sana tetap memohonkan keampunan dosa kesalahan Bunda saudara semua di sana dan mengihtiarkan sepenuh-penuhnya pengampunan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.


Anaknda harap dengan tersiarnya kabar yang menyedihkan ini tidak akan menyebabkan akibat yang tidak menyenangkan bahkan sebaliknya ikhlas dan bersukurlah sebanyak-banyaknya rasa karunia Tuhan yang telah menentukan nasib anaknda sedemikian mustinya.


Sekali lagi anaknda mohon ampun dan maaf atas kesalahan dan dosa anaknda kepangkuan Bunda Mas Choenem, Mas Matori, Mas Chalim, Ju Rochajah, Ju Pualidi , Rodijah, Turiah dan keluarga Tawangsari Lamongan Jatisaba Purbolingga Laren Bumiayu.


Anaknda,
Ttd.
(Osman bin Hadji Ali)


SURAT TERAKHIR HARUN

Dihaturkan

Yang Mulia Ibundaku
Aswiani Binti Bang.
yang diingati siang dan malam.




Dengan segala hormat.


Ibundaku yang dikasihi, surat ini berupa surat terakhir dari ananda Tohir. Ibunda sewaktu ananda menulis suat ini hanya tinggal beberapa waktu saja ananda dapat melihat dunia yang fana ini, pada tanggal 14 Oktober 196 rayuan ampun perkara ananda kepada Presiden Singapura telah ditolak jadi mulai dari hari ini Ananda hanya tinggal menunggu hukuman yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 1968. 


Hukuman yang akan diterima oleh ananda adalah hukuman digantung sampai mati, di sini ananda harap kepada Ibunda supaya bersabar karena setiap kematian manusia yang menentukan ialah Tuhan Yang Maha Kuasa dan setiap manusia yang ada di dalam dunia ini tetap akan kembali kepada Illahi.


Mohon Ibunda ampunilah segala dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan ananda selama ini sudilah Ibundaku menerima ampun dan salam sembah sujud dari ananda yang terakhir ini, tolong sampaikan salam kasih mesra ananda kepada seisi kaum keluarga ananda tutup surat ini dengan ucapan terima kasih dan Selamat Tinggal untuk selama-lamanya, 

 
Pejabat penjara Changi menyampaikan berita kepada para wartawan yang mengikuti peristiwa ini, bahwa hukuman telah dilaksanakan. Berita eksekusi tersebar ke seluruh penjuru dunia
Setelah jenazah di masukkan ke dalam peti, Pemerintah Singapura tidak mengizinkan Bendera Merah Putih yang dikirimkan Pemerintah Indonesia untuk di selubungkan pada peti jenazah kedua Pahlawan tersebut pada saat masih di dalam penjara. Pukul 10.30 kedua jenzah baru diizinkan dibawa ke Kedutaan Besar RI


Setelah mendapatkan penghormatan terakhir dari masyarakat Indonesia di KBRI, pukul 14.00 jenazah diberangkatkan ke lapangan terbang dimana telah menunggu pesawat TNI—AU. yang akan membawa kedua jenazah tersebut ke Tanah Air.
Presiden Suharto langsung mengeluarkan pernyataan bahwa Usman dan Harun dari KKO-AL diangkat sebagai Pahlawan Nasional. 
Bendera merah putih telah dikibarkan setengah tiang sebagai tanda berkabung. Warga Indonesia yang berada di Singapura berbondong-bondong datang membanjiri Kantor Perwakilan Indonesia dengan membawa karangan bunga sebagai tanda kehormatan terakhir terhadap kedua prajuritnya.

Pemerintah Indonesia mengirim Dr. Ghafur dengan empat pegawai Kedutaan Besar RI ke penjara Changi untuk menerima kedua jenazah untuk disemayamkan di Gedung Kedutaan Besar RI. Akan tetapi kedua jenazah belum boleh dikeluarkan dari penjara sebelum dimasukkan ke dalam peti dan menunggu perintah selanjutnya dari Pemerintah Singapura.

Pada hari itu Presiden Suharto sedang berada di Pontianak meninjau daerah Kalimantan Barat yang masih mendapat gangguan dari gerombolan PGRS dan Paraku. Saat mendengar kabar bahwa Pemerintah Singapura telah melaksanakan hukuman gantung terhadap Usman dan Harun, maka Presiden Suharto langsung mengeluarkan pernyataan bahwa Usman dan Harun dari KKO-AL diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

17 Oktober 1968 Pukul 10.30 kedua jenzah baru diizinkan dibawa ke Kedutaan Besar RI
17 Oktober 1968 pukul 14.00 jenazah diberangkatkan ke lapangan terbang dimana telah menunggu pesawat TNI—AU. yang akan membawa kedua jenazah tersebut ke Tanah Air.
 Setibanya di Indonesia,  jenazah kedua Pahlawan itu diterima oleh Panglima Angkatan Laut Laksamana TNI R. Muljadi dan disemayamkan di Aula Hankam Jalan Merdeka Barat sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
17 Oktober 1968 Pukul 14.35 pesawat TNI—AU yang khusus dikirim dari Jakarta meninggalkan lapangan terbang Changi membawa kedua jenazah yang telah diselimuti oleh dua buah bendera Merah Putih
Setibanya di Kemayoran, kedua jenazah Pahlawan itu diterima oleh Panglima Angkatan Laut Laksamana TNI R. Muljadi dan disemayamkan di Aula Hankam Jalan Merdeka Barat sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Sepanjang jalan antara Kemayoran, Merdeka Barat penuh berjejal manusia yang ingin melihat kedatangan kedua Pahlawannya, Pahlawan yang membela kejayaan Negara, Bangsa dan Tanah Air.

Malam harinya, penghormatan terakhir diberikan oleh pejabat-pejabat Pemerintah, baik militer maupun sipil. Jenderal TNI Nasution melakukan sembahyang dan beliau menunggui jenazah Usman dan Harun sampai larut malam.

Tepat pukul 13.00 siang, sesudah sembahyang Jum'at, kedua jenazah diberangkatkan dari Aula Hankam menuju ke tempat peristirahatan yang terakhir. Jalan yang dilalui iringan ini dimulai Jalan Merdeka Barat, Jalan M.H. Thamrin, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Gatot Subroto, Jalan Pasar Minggu dan akhirnya sampai Kalibata.

Turut mengiringi dan mengantar kedua jenazah selain keluarga Usman dan Harun, adalah para Menteri Kabinet Pembangunan, Laksamana R. Muljadi, Letjen Kartakusumah, Para Perwira Tinggi ABRI, Korps Diplomatik, Ormas dan Orpol, dan tidak ketinggalan para pemuda dan pelajar serta masyarakat.



Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Letjen Sarbini. Atas nama Pemerintah Letjen Sarbini menyerahkan kedua jasad Pahlawan ini kepada Ibu Pertiwi dan dengan diiringi doa semoga arwahnya dapat diberikan tempat yang layak sesuai dengan amal bhaktinya. Dengan didahului tembakan salvo oleh pasukan khusus dari keempat angkatan, peti jenazah diturunkan dengan perlahan-lahan ke liang lahat.

Pemerintah telah menaikkan pangkat mereka satu tingkat lebih tinggi yaitu Usman alias Janatin bin Haji Muhammad Ali menjadi Sersan Anumerta KKO dan Harun alias Tohir bin Mandar menjadi Kopral Anumerta KKO. Sebagai penghargaan Pemerintah menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Sakti dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional.


18 Oktober 1968 pukul 13.00 siang, sesudah sembahyang Jum’at, kedua jenazah diberangkatkan dari Aula Hankam menuju ke tempat peristirahatan yang terakhir  di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.
Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Letjen Sarbini. Atas nama Pemerintah Letjen Sarbini menyerahkan kedua jasad Pahlawan ini kepada Ibu Pertiwi dan dengan diiringi doa semoga arwahnya dapat diberikan tempat yang layak sesuai dengan amal bhaktinya. Dengan didahului tembakan salvo oleh pasukan khusus dari keempat angkatan, peti jenazah diturunkan dengan perlahan-lahan ke liang lahat. 
Pemerintah telah menaikkan pangkat mereka satu tingkat lebih tinggi yaitu Usman alias Janatin bin Haji Muhammad Ali menjadi Sersan Anumerta KKO dan Harun alias Tohir bin Mandar menjadi Kopral Anumerta KKO. Sebagai penghargaan Pemerintah menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Sakti dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No 050/TK/1968. Untuk mengenang nama Usman Janatin, pemerintah daerah Purbalingga membangun sebuah taman bernama Taman Kota Usman Janatin yang memiliki luas sekitar 3,5 hektar dengan biaya Rp 5,2 miliar.


Sumber : 
http://jawatimuran.wordpress.com/2012/12/31/harun-alias-tohir-bin-mandar-kopral-anumerta-kko-bawean-gresik/
http://toparmour.blogspot.com/2011/03/usman-dan-harun-pahlawan-dwikora-yang.html
http://jibrilia.blogspot.com/2014/02/nama-kri-usman-harun-diprotes-singapura.html 
http://news.detik.com/read/2014/02/06/182900/2489687/10/2/mengenal-sepak-terjang-pahlawan-nasional-usman-dan-harun
http://toparmour.blogspot.com/2011/03/usman-dan-harun-pahlawan-dwikora-yang.html


Anak Bangsa :Menatap Mentari Di Kaki Ufuk Dengan Penuh Asa..........
read more...

Anak (12 Tahun) Penderita Busung Lapar Meninggal Dunia

Image by : Google


Langkat,Reza Fahlevi
Tasya (12) warga Dusun IV Desa Tapak Kuda Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat, meninggal dalam kondisi tragis setelah 6 tahun menderita busung lapar,kondisi Tasya (Jum’at,7/2) kurus dengan perut yang membesar dan mata mencekun.
Menurut Salha, tetangga Keluarga Tasya, kondisi kehidupan Basir (45) dan Isah (37) orang tua Tasya sangat memprihatinkan dan sehari-hari Basir bekerja sebagai nelayan tradisionil,“sudah angin kencang dan berombak, nelayan juga tidak dapat melaut, makin susah pula kehidupan kami ini pak..., apa lagi di keluarga Tasya itu, yang kemungkinan jika ada uang mereka mau mengobati Tasya hingga sembuh,” ucap Salha dan ibu-ibu lainnya saat mendatangi rumah duka.
Kehendak yang kuasa tidak bisa di elakkan atas meninggal Tasya, demikian juga dengan orang tua Tasya tak dapat menolak suratan takdir hanya rasa sedih dan sesal yang membekas atas kepergian ananda tercinta, dikarenakan ketidak mampuannya ekonomi sebagai nelayan kecil,mereka  tidak bisa berbuat apa apa untuk menyelamatkan Tasya.
Selamat jalan Tasya semoga Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa memberikan tempat terbaik disisinya..,Amin...Yaa Robbi
Anak Bangsa :Menatap Mentari Di Kaki Ufuk Dengan Penuh Asa..........
read more...

Kamis, Februari 06, 2014

ZULKIFLI IBRAHIM YUSUF LUBIS,SH : "Memberdayakan Masyarakat Berbasis Pertanian & Bahari.Untuk Mencapai Tingkat Perekonomian Yang Memadai, Mandiri Serta Sejahtera".




Langkat,Refil
Mencalonkan diri  menjadi anggota legislatif Kabupaten Langkat sudah diperhitungkan ZULKIFLI IBRAHIM YUSUF LUBIS,SH dengan mempersiapkan program skala prioritas. Pria kelahiran 2 Januari 1968 ini bertekad untuk berbuat dengan benar dan baik serta bermanfa'at untuk kepentingan masyarakat dengan sentuhan keikhlasan.


Ayah dari 3 putra dan putri dan Suami dari Nella Aryaneva,SE ini berdomisili di kota Tanjung Pura Kabupaten Langkat Sumatera Utara ini di usung Partai Golkar dengan nomor urut 4 untuk DPRD Kabupaten Langkat, daerah pemilihan (dapil) 3 yang terdiri dari Kecamatan Tanjung Pura, Kecamatan Gebang, Kecamatan Hinai, Kecamatan Padang Tualang dan Kecamatan Sawit Seberang tersebut kesehariannya banyak bergaul di kalangan Petani dan Nelayan yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua 1 Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Langkat.


Keseriusan sulung dari 6 bersaudara putra Dr.Ibrahim Yusuf Lubis dan Rosita A.Badan (Almh) dalam berkompetisi sebagai calon legislatif (caleg) dituangkan dalam visi “Mewujudkan Masyarakat Cerdas, Makmur, Religius dan Berwawasan Lingkungan”.

Putra mantan Direktur RSUD Tanjung Pura Kabupaten Langkat tersebut memaparkan visinya bahwa Cerdas bermakna memiliki pengetahuan yang cukup terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pencapaian tingkat pendidikan formal tertentu, sehingga mendukung kualitas kehidupan masyarakat.
Sedangkan 'Makmur' bermakna memiliki tingkat kesejahteraan yang tinggi yang didukung oleh tingkat pendidikan yang cukup, derajat kesehatan yang tinggi serta daya beli yang mencukupi, religius bermakna bahwa nilai-nilai agama mendasari setiap kebijakan pemerintah dan aktivitas masyarakat, serta terciptanya kebebasan menjalankan agama sesuai dengan keyakinannya masing-masing,selanjutnya Berwawasan Lingkungan, bermakna kelestarian terhadap lingkungan hidup, daya dukung dan keseimbangan lingkungan menjadi prioritas pemerintah dan masyarakat dalam aktivitas ekonomi untuk menjamin keberlanjutan pembangunan tukasnya kemudian.

Dengan visi tersebut ZULKIFLI IBRAHIM YUSUF LUBIS,SH sebagai Caleg Partai Golkar Nomor 4 Dapil Kabupaten Langkat 3 mempunyai misi strategis yaitu  Memberdayakan masyarakat berbasis pertanian dan bahari untuk mencapai, tingkat perekonomian yang memadai, mandiri serta sejahtera.



Anak Bangsa :Menatap Mentari Di Kaki Ufuk Dengan Penuh Asa..........
read more...
 
Copyright © 2014 Anak Bangsa • All Rights Reserved.
Template Design by BTDesigner • Powered by Blogger
back to top